Beberapa waktu yang lalu saat melaju dengan sepeda motor. Sekumpulan
anak SD mencoba menghentikan saya dengan melambaikan tangan-tangannya. Melepas gas
dan menarik rem, saya pun berhenti.
“Om, ikut om..” ujar salah satu dari mereka.
Saya membuka kaca helm dan menganggukkan kepala tanda setuju. Entah
apa yang mereka rundingkan, akhirnya dua orang diantara mereka ikut dengan
saya.
Melihat kejadian ini, saya teringat dengan masa sekolah dasar saya
dahulu. Sama, suka menyetop-nyetopi laju kendara sepeda motor yang terlihat
sendiri. Saya paham yang mereka alami yakni kesulitan mencari mobil angkutan
umum untuk ditumpangi. Alasannya klasik, dalam kondisi jam-jam tertentu saat
sewa (penumpang) meluber, supir lebih memilih penumpang dewasa ketimbang anak
sekolah. Ini cukup beralasan mengingat orang dewasa membayar ongkos lebih besar
ketimbang anak sekolah.
Lantas apakah ini salah?
Tentu TIDAK juga, dengan menimbang supir harus berjuang ekstra mengejar setoran, mencukupi kebutuhan keluarganya dan mungkin sedikit upaya untuk menabung. Hal ini terjawab ketika saya beranjak dewasa dan tak pernah saya mengerti ketika masih SD. Dan mungkin juga tak dimengerti oleh anak-anak sekolah dasar ini. Yang mereka tahu, supir enggan mengangkut mereka untuk saat ini.
Tentu TIDAK juga, dengan menimbang supir harus berjuang ekstra mengejar setoran, mencukupi kebutuhan keluarganya dan mungkin sedikit upaya untuk menabung. Hal ini terjawab ketika saya beranjak dewasa dan tak pernah saya mengerti ketika masih SD. Dan mungkin juga tak dimengerti oleh anak-anak sekolah dasar ini. Yang mereka tahu, supir enggan mengangkut mereka untuk saat ini.
“Adek-adek turunnya dimana?” ujarku saat dalam perjalanan
“Aku di pondok sejahtera om” cetus satu anak
“Kalau aku, lewat pasar sedikit om” sebut anak satunya lagi
Lagi, kepala ini mengangguk dan menjawab “iya” tanda setuju. Aura kesanggupan
mempengaruhi. Padahal maaf bukan maksud riya, daerah yang disebut oleh keduanya
tidaklah saya lalui.
Saya hanya melanjutkan estafet kebaikan beberapa orang terdahulu
yang pernah saya tumpangi. Terlihat orang yang mengantar saya itu memutar arah
balik pertanda tujuannya sudah terlewatkan. Estafet kebaikan itu pernah saya
rasakan dan masih tersimpan rapih di memori otak ini. Tentu saja estafet kebaikan
ini bukan hanya satu cerita ini, masih banyak estafet kebaikan yang saya
rasakan oleh orang lain pada saya. Sekarang, saya berharap estafet-estafet
kebaikan ini dan yang lainnya akan tetap terjaga dan
dilanjutkan oleh generasi setelahnya. Jangan terhenti.
Wallahu’alam

0 komentar:
Posting Komentar