Selamat Datang Pangeran

















Aku tak sanggup mendengar, ketika ayahku mendominasi percakapan seorang yang datang melamarku.
Ingin aku bantu menjawab pertanyaan ayahku yang ditujukan padanya bertubi-tubi.

Ibu yang sejak tadi disampingku, memintaku untuk tenang dan bersabar.
Memang wajar sikap semua orang tua yang mengharapkan terbaik bagi anaknya.

Tapi aku tak ingin menjadi gagal kembali dan aku takut ini menjadi hal yang sia-sia.
Aku memilih untuk menutup telinga rapat-rapat dan memejamkan mata.

Ibu mengusap air mataku dan menyingkap tangan yang ada di telingaku.
"Orangnya sudah pulang" ujar ibuku.

Aku membuka mata berat dan terdiam menunduk.
Kembali ibu megusap air mataku, mendongakkan wajahku, menggapai pundak berusaha memelukku.

"Ananda shalihah, tak perlu khawatir jika ia bukan jodohmu. Toh niat mu menikah adalah ibadah maka tak harus dengannya." Bisik ibuku.

"Tak ada niat ayahmu untuk menghalangi pangeranmu datang, ibu tahu benar itu. Mungkin ayahmu hanya ingin tahu sejauh mana kegigihannya dalam mendapatkan engkau. Atau sejauh mana ketabahan calon pangeranmu dalam menghadapi ayahmu". Lanjut ibuku.

Aku sedikit tenang mendengarnya.

"Pernikahan memanglah ibadah, penantian mu pun ibadah". kata ibuku.
"Ananda shalihah, kita tidak akan pernah sampai memahami pembicaraan laki-laki. Ini masalah tanggungjawab dan kesatriaan". Tambahnya lagi.

Aku tetap diam, memahami kata-katanya.

"Maka kita lihat setelah ini, apakah ia akan datang kembali membawa kedua orang tuanya, atau melambaikan tangan menghadap kamera tanda tidak kemampuannya" papar ibuku tersrnyum.


Baiklah pangeran silakan mencoba..

0 komentar:

Posting Komentar