Jalur ini, iya dijalur ini..









Ada yang berbeda dari biasanya, kalau dulu ke Tangerang biasa-biasa saja bawa-bawaannya sekarang lebih mirip seperti kurir yang sedang ramai saat ini.

Kalau dulu berangkatnya delay tapi sekarang lebih awal 1 jam dan yang pasti tambah sumringah tentunya, heheh,,

Oke biar kita sama-sama menarik benang merah dulu baru kemudian berkata “ohhh begituuuu..”
Jadi begini, sekarang saya punya bisnis kecil-kecilan makanan ringan lidi-lidian. Tau kaannn? Yap betul..makanan gurih yang bentuknya kayak lidi yang suka dipake nenek sihir buat terbang.

Makanan ringan ini saya ambil beli dari seorang teman yang memproduksinya langsung. Kemudian saya titipkan pada kakak saya yang kebetulan juga menjual makanan ringan yaitu makaroni.

Yah memang keuntungannya tidak seberapa tapi lumayanlah paling tidak untuk menggantikan biaya yang dikeluarkan selama perjalanan Serang-Tangerang, termasuk uang bensin, makan siang dan jajan.

Jalur ini, iya dijalur ini...

Menyusuri sepanjang jalan Serang-Tangerang, saya biasa mengambil jalur alternatif yaitu jalur sepi dari keramaian istilahnya orang-orang bilang “Lewat Belakang”. 

Jalur ini selalu menjadi pilihan selain lancar dikarenakan tidak terlalu ramai oleh lalu-lalang kendaraan, jalur ini pun terbilang bagus untuk dilalui.

Jalur ini, iya dijalur ini...

Ada beberapa keindahan yang ditawarkan, diantaranya adalah “sungai” lebih tepatnya “Kali” yang menyusuri dibahu sepanjang jalur ini.

Jalur ini juga menghadirkan bentangan sawah luas yang tak bosan-bosannya mata memandang. Jujur saja, ketika saya melewatinya sering kali saya sengaja untuk berhenti barang sejenak untuk melipur lara, menenangkan hati dan menyejukkan jiwa sebelum akhirnya menarik laju kendaraan kembali.

Kalaupun saya tidak berhenti, paling tidak saya melambatkan laju kendaraan menemani burung-burung bernyanyi bersama angin *cailllaaaahh,,,

Sayang, akbiat el nino yang berkepanjangan. Sungai menjadi kering begitupun dengan sawahnya nampak gersang. Tak habis ku berfikir bagaimana nasib petani-petani yang mengais rejeki untuk keluarganya disana.

Ah semoga pemerintah jeli melihat kondisi seperti ini. Semoga, semoga. Aamiin...

Jalur ini, iya dijalur ini...

Ada sekolah alam entreupreneur (*bener gak itu tulisannya..?). woooh iyaahh,, ngomong-ngomongin sekolah alam ini saya jadi teringat dengan adik kesayangan yang tidak kebetulan alias sengaja untuk mengabdi di sekolah ini. Doi mencurahkan segala mencurahkan segala ilmunya pada anak didiknya.

Terakhir pengabdiannya adalah kepala sekolah tapi kudengar doi sudah mengundurkan diri. Cukup keterlaluan memang, jabatan kepala sekolah ditinggalkan apalagi doi adalah ikon sekolah alam dan menjadi tokoh central para guru. 

cukup beralasan pengunduran dirinya, mau tau kenapa??? karena sekolah alam ini tidak membolehkan siswanya untuk memakai jilbab. Nah loh!!!, saya sebenarnya setuju banget.

tapi kalau siswinya boleh-boleh sajah, hahahh...

kacang tidak selalu lupa dengan kulitnya. selepas tidak lagi mengajar disana, doi tetap berkunjung dan menjadi endoser untuk sekolah alam itu. Mempromosikan lewat jejaring nelayan yang sedang menjala ikan di depan sekolahnya.

Jalur ini, iya dijalur ini...

Setelah melewati sekolah alam entreupreneur, itu artinya bentaran lagi saya akan sampai pada kediaman kakak saya. 

“Assalamu’alaikumm...” sapaku.
“wa’alaikumussalam, maaf bang lewat dulu...” jawabnya.
“bussseet loe kata gua minta sumbangan apa??,” gumamku.
“heheheh, wohh azis. Masuk, masuk. Maaf kagak ngeliat gw” cengengesan.
“nih lidi-lidi udah dateng,  totalnya blalajgkheiohihsdg” ujarku.
“oke deh” jawabnya singkat.
“gimana yang, jualannya laris?” tanyaku.
“Alhamdulillah..ada aja rejeki anak sholeh” sahutnya. 
“oia gw langsung berangkat yah” pintaku.
“iya ati-ati “ balasnya. Oke transaksi telah selesai.

Saya selalu berdo’a untuk kakak saya ini agar usahanya lancar, berkembang dan barokah.

 Jalur ini, iya dijalur ini...

Saya melewati tempat pemakaman umum tempat ayah saya disemayamkan. Selalu terbayang wajah teduhnya, kegigihannya dalam menopang ekonomi keluarga untuk berkecukupan.

Diwaktu kepergiannya, saat itu saya berusia ± 17th. Usia yang cukup matang mengenalnya tapi mengenalnya saja tak cukup. Saya harus banyak belajar darinya. 

Belajar menjadi laki-laki, belajar menjadi anak baik dan belajar bagaimana menjadi ayah super sepertinya. Dan ibu sayalah yang selalu menasehati tentang itu semua sepeninggal belahan jiwanya tak ada lagi disampingnya.

Masih saya ingat kata-kata terakhir almarhum ayah

“kalian harus kompak kakak-beradik...”

Ya Allah, Ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan berilah kasih sayang kepada keduannya sebagaimana keduanya mengasuhku sejak kecil”

Jalur ini, iya dijalur ini...

Serang, 1 November 2015

0 komentar: