![]() |
Ada
yang berbeda dari biasanya, kalau dulu ke Tangerang biasa-biasa saja
bawa-bawaannya sekarang lebih mirip seperti kurir yang sedang ramai saat ini.
Kalau
dulu berangkatnya delay tapi sekarang lebih awal 1 jam dan yang pasti tambah
sumringah tentunya, heheh,,
Jadi
begini, sekarang saya punya bisnis kecil-kecilan makanan ringan lidi-lidian. Tau
kaannn? Yap betul..makanan gurih yang bentuknya kayak lidi yang suka dipake
nenek sihir buat terbang.
Makanan
ringan ini saya ambil beli dari seorang teman yang memproduksinya langsung. Kemudian
saya titipkan pada kakak saya yang kebetulan juga menjual makanan ringan yaitu
makaroni.
Yah
memang keuntungannya tidak seberapa tapi lumayanlah paling tidak untuk
menggantikan biaya yang dikeluarkan selama perjalanan Serang-Tangerang,
termasuk uang bensin, makan siang dan jajan.
Jalur
ini, iya dijalur ini...
Menyusuri
sepanjang jalan Serang-Tangerang, saya biasa mengambil jalur alternatif yaitu
jalur sepi dari keramaian istilahnya orang-orang bilang “Lewat Belakang”.
Jalur
ini selalu menjadi pilihan selain lancar dikarenakan tidak terlalu ramai oleh
lalu-lalang kendaraan, jalur ini pun terbilang bagus untuk dilalui.
Jalur
ini, iya dijalur ini...
![]() |
Jalur
ini juga menghadirkan bentangan sawah luas yang tak bosan-bosannya mata
memandang. Jujur saja, ketika saya melewatinya sering kali saya sengaja untuk
berhenti barang sejenak untuk melipur lara, menenangkan hati dan menyejukkan
jiwa sebelum akhirnya menarik laju kendaraan kembali.
Kalaupun
saya tidak berhenti, paling tidak saya melambatkan laju kendaraan menemani
burung-burung bernyanyi bersama angin *cailllaaaahh,,,
Sayang,
akbiat el nino yang berkepanjangan. Sungai menjadi kering begitupun dengan
sawahnya nampak gersang. Tak habis ku berfikir bagaimana nasib petani-petani
yang mengais rejeki untuk keluarganya disana.
Ah
semoga pemerintah jeli melihat kondisi seperti ini. Semoga, semoga. Aamiin...
Jalur
ini, iya dijalur ini...
Ada
sekolah alam entreupreneur (*bener gak itu tulisannya..?). woooh iyaahh,, ngomong-ngomongin
sekolah alam ini saya jadi teringat dengan adik kesayangan yang tidak kebetulan
alias sengaja untuk mengabdi di sekolah ini. Doi mencurahkan segala mencurahkan
segala ilmunya pada anak didiknya.
Terakhir
pengabdiannya adalah kepala sekolah tapi kudengar doi sudah mengundurkan diri. Cukup
keterlaluan memang, jabatan kepala sekolah ditinggalkan apalagi doi adalah ikon
sekolah alam dan menjadi tokoh central para guru.
cukup
beralasan pengunduran dirinya, mau tau kenapa??? karena sekolah alam ini tidak
membolehkan siswanya untuk memakai jilbab. Nah loh!!!, saya sebenarnya setuju
banget.
tapi
kalau siswinya boleh-boleh sajah, hahahh...
kacang
tidak selalu lupa dengan kulitnya. selepas tidak lagi mengajar disana, doi
tetap berkunjung dan menjadi endoser untuk sekolah alam itu. Mempromosikan lewat
jejaring nelayan yang sedang menjala ikan di depan sekolahnya.
Jalur
ini, iya dijalur ini...
Setelah
melewati sekolah alam entreupreneur, itu artinya bentaran lagi saya akan sampai
pada kediaman kakak saya.
“Assalamu’alaikumm...”
sapaku.
“wa’alaikumussalam,
maaf bang lewat dulu...” jawabnya.
“bussseet
loe kata gua minta sumbangan apa??,” gumamku.
“heheheh,
wohh azis. Masuk, masuk. Maaf kagak ngeliat gw” cengengesan.
“nih
lidi-lidi udah dateng, totalnya
blalajgkheiohihsdg” ujarku.
“oke
deh” jawabnya singkat.
“gimana
yang, jualannya laris?” tanyaku.
“Alhamdulillah..ada
aja rejeki anak sholeh” sahutnya.
“oia
gw langsung berangkat yah” pintaku.
“iya
ati-ati “ balasnya. Oke transaksi telah selesai.
Saya
selalu berdo’a untuk kakak saya ini agar usahanya lancar, berkembang dan
barokah.
Jalur
ini, iya dijalur ini...
Saya
melewati tempat pemakaman umum tempat ayah saya disemayamkan. Selalu terbayang
wajah teduhnya, kegigihannya dalam menopang ekonomi keluarga untuk berkecukupan.
Diwaktu
kepergiannya, saat itu saya berusia ± 17th. Usia yang cukup matang mengenalnya
tapi mengenalnya saja tak cukup. Saya harus banyak belajar darinya.
Belajar
menjadi laki-laki, belajar menjadi anak baik dan belajar bagaimana menjadi ayah
super sepertinya. Dan ibu sayalah yang selalu menasehati tentang itu semua
sepeninggal belahan jiwanya tak ada lagi disampingnya.
Masih saya ingat kata-kata terakhir almarhum ayah
“kalian harus kompak kakak-beradik...”
“Ya Allah, Ampunilah aku dan kedua orang
tuaku dan berilah kasih sayang kepada keduannya sebagaimana keduanya mengasuhku
sejak kecil”
Jalur
ini, iya dijalur ini...
Serang, 1 November 2015




0 komentar:
Komentar baru tidak diizinkan.