Ba’da sholat Idul fitri, saya langsung berkunjung kerumah orang tua. Seperti biasa, cium tangan dan meminta
maaf pada ibu. Terlihat disana juga ada adik dan beberapa kerabat dekat. Memang sudah menjadi hal biasa, rumah orang tua selalu ramai dikunjungi untuk silaturahim, mungkin karena faktor yang di “Tua” kan.
Setelah saya meng-agresi ketupat, rendang dan nastar. Saya pun bertanya pada ibu “Rencana mau kemana hari ini bu?” tanyaku. “gak kemana-mana dulu, menunggu si anu datang” jawabnya.
Dari rumah ibu, saya pun menyempatkan diri kerumah tetangga dan beberapa kawan lama. Saling memaafkan, menanyakan keadaan dan bercengkrama. Hal yang sama saya tanyakan adalah “ hendak kemana hari raya ini?”. Katanya, kemungkinan besok akan kesana-kesana. Hari ini menunggu si anu datang dulu.
Jam sudah menunjukkan pkl 14:00, saya pun bergegas pamit undur diri. Perjalan selanjutnya adalah rumah mertua di Bogor. Jalanan yang sepi membuat saya terhindar dari kemacetan. Sampai di Bogor saya disambut anak dan isteri, yang memang sudah berada disana. Seperti halnya hari raya, saling memaafkan dengan orang-orang rumah disana.
Layaknya dirumah ibu saya, rumah mertua pun ramai dikunjungi. Karena memang lagi-lagi menjadi yang di “Tua”kan. Hal yang sama dilakukan oleh mertua adalah menunggu rombongan tamu yang akan datang. Menahan diri untuk tidak keluar rumah saat itu.
Melihat beberapa kejadiaan tersebut, yaitu menunggu kedatangan “Tamu” yang ditunggu. Terbesit dalam pikiran, apakah saya adalah tamu yang ditunggu? atau jangan-jangan saya adalah tamu yang tak diharapkan kehadirannya, toh kalaupun saya dijamu dengan baik mungkin bukanlah tamu istimewa.
Ibarat martabak, ada yang biasa, spesial, istimewa tentu ada perbedaannya. Begitu juga kehadiran kita, menjadi biasa, spesial atau istimewa dimata tuan rumah. Semua ini tak lepas dari sepak terjang tamu-tamu tersebut dalam kehidupan sang empunya rumah.
Tak ada bedanya dengan kita, tentu kita pun memiliki tamu biasa, spesial atau istimewa. Lantas pertanyaannya adalah menjadi tamu seperti apa kita dihadapan tuan rumah.
Mereka (tamu-tamu istimewa) tersebut, bukanlah yang kaya harta akan tetapi kaya hati dan jiwa.
Mereka (tamu-tamu istimewa) tersebut, hadir pada saat orang lain tertimpa musibah bukan hanya hadir di hari raya saja.
Mereka (tamu-tamu istimewa) tersebut, mau berbagi meski tak diminta dan sigap meski dalam kesusahan.
Dan pada saat hari raya tiba, kedatangannya adalah istimewa bisa mengalahkan kedatangan ribuan tamu biasa.
Wallahu’alam


0 komentar:
Posting Komentar