Resume video dasar-dasar menulis; Cahyadi Takariawan

Oleh: Basuni Azis

Assalamu'aikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pada kesempatan kali ini saya akan berbagi tentang dasar-dasar kepenulisan. Materi ini saya dapat dari video tentang kepenulisan oleh Bapak Cahyadi Takariawan. Video ini terbagi menjadi dua bagian. Berdurasi sekitar kurang lebih 37 menit dan 30 menit. Materinya bagus, penyampaiannya sederhana dan mudah dipahami. Dikelilingi nuansa kedai kopi, mungkin audience disuruh agar rileks mendengarkan sambil minum kopi.
Oke kita langsung aja menyimak.

Diawali oleh pengalaman Pak Cahyadi Takariawan yang senang menulis sejak masa sekolah (SMA). Pak Cah (sapaan akrab beliau) senang menulis dilatarbelakangi dengan senang pula membaca. Ibu beliau adalah kepala sekolah. meminjam kunci perpustakaan dan membaca dengan waktu yang lama adalah makanan sehari-harinya. Sampai-sampai semua buku dilahap tak ada lagi yang tersisa.

Pada masa SMA, Pak Cah menulis hanya untuk dokumen pribadi dan tidak pernah dipublikasikan. Diawal perkuliahan hatinya terusik dengan tulisan seseorang yang dimuat dikoran lokal. Lantas Pak Cah membuat tulisan tanggapan tentang hasil karya orang itu, yang akhirnya dimuat juga oleh koran lokal tersebut. Dari kejadian itu adalah momentum bagi Pak Cah untuk tulisan-tulisan selanjutnya yang dikirim dan dimuat berbagai media.

Serasa sudah produktif dan menghasilkan materi berupa uang. Pak Cah memutuskan menikah disaat kuliah. Beliau mulai mandiri. Menyetop pemberian orang tua, mengontrak rumah, mempunyai anak dan mencukupi kebutuhannya, serta isterinyapun masih dibangku kuliahan. Atas izin Allah itu semua tercukupi dari hasil menulis.

Oke, itu dia tadi intro oleh Pak Cah, sekarang kita akan lanjutkan yakni tujuan menulis.

Untuk apa kita menulis??

Ada delapan bagian yang dikemukakan dalam tujuan menulis. Tapi ini bukanlah bagian-bagian mutlak, boleh saja kita memiliki dan berhak untuk  bagian-bagian tujuan menulis yang lainnya.
Delapan tujuan tersebut adalah; Tujuan Ideologis, tujuan akademis, tujuan ekonomis, tujuan psikologis, tujuan politis, tujuan pedagogis, tujuan medis dan tujuan praktis pragmatis.

Menulis dengan tujuan ideologis tidak terpengaruh dengan sikap praktis dan pragmatis, dibayar atau tidak, entah terkenal atau tidak, entah disanjung atau dibully. orang seperti ini memiliki tujuan tertentu memiliki keyakinan dan ingin mempengaruhi orang lain dengan keyakinan tersebut.

Menulis dengan tujuan akademis biasanya di ruang lingkup pendidikan. misal seorang dosen menulis jurnal atau materi tentang pembelajaran kepada mahasiswanya. menulis dengan tujuan akademis tentu terikat oleh aturan-aturan sistematika penulisan, format bahasa dan Penggunaan istilah yang diatur oleh masing-masing lembaga atau instansi yang memiliki aturan tersebut.

Dengan tujuan ekonomis seorang penulis sah-sah saja mendapatkan keuntungan materi dari hasil menulis. Entah itu dengan sistem royalti, pembelian putus atau mengikuti lomba menulis berhadiah.

Adapun tujuan psikologis yaitu seseorang yang sedih atau bergembira. Kemudian menyalurkan ekspresi diri dengan menulis. Maka akan mengeluarkan sesak yang ada dalam dirinya.

Menulis untuk tujuan politis biasanya dilakukan oleh para politisi. Ada yang sifatnya praktis dengan memanfaatkan event-event tertentu dan ada yang mengedukasi dengan pembelajaran politik tersebut.

Selanjutnya menulis dengan tujuan pedagogis yaitu sifatnya untuk melakukan proses pendidikan dengan tema apapun inti tujuannya adalah untuk mendidik.

Dalam dunia medis ternyata menulis bisa menyehatkan. Dia meyakini bahwa ada kemanfaatan atau pencegahan yang diperoleh dengan menulis.

Tujuan praktis dan pragmatis yaitu menulis untuk popularitas atau menulis untuk syarat-syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi contoh seperti anak sekolah yang menulis laporan, makalah atau seorang mahasiswa yang menulis skripsi dan lain sebagainya.

Itu tadi delapan tujuan menulis yang telah di urai oleh Pak Cah. Akan tetapi ada juga orang yang menulis tidak hanya memiliki satu tujuan ada juga beberapa tujuan yang terangkum dalam satu tulisan.

Nahh, baik sahabat sekalian. Setelah kita mempunyai tujuan untuk menulis maka selanjutnya kita akan berbicara tentang manfaat menulis. Manfaat menulis dibagi menjadi dua bagian besar yaitu pertama bercorak nilai, spiritual dan yang kedua bercorak praktis.

1) Manfaat value (nilai) dan spiritual

--Manfaat menulis itu adalah membuat kita banyak membaca dan banyak belajar. Semakin banyak kita menulis ada tuntutan untuk semakin banyak juga kita membaca. Kalau kita senang menulis tapi tidak suka membaca, maka akan membuat tulisan kita tidak berkembang dan dangkal karena tidak memiliki perluasan pengetahuan dari hasil pembelajaran membaca.

--Menulis itu melatih kita untuk berpikir logis dan sistematis. Ketika kita membuat tulisan fiksi dan mengarang dengan sembarangan maka akan ada kejanggalan-kejanggalan sehingga orang lain tidak nyaman untuk membaca.

--Menulis itu adalah cara mengikat makna.
Apabila seseorang membaca maka dia sedang menangkap makna. Kemudian setelah membaca diteruskan dengan menulis, maka orang itu sedang mengikat makna setelah menangkap dari bacaan. Mengikat tidak akan mudah hilang.

--Sebagai sarana katarsis. Seseorang akan menjadi lega setelah mengeluarkan apa yang menjadi uneg-unegnya. Menjadi sesuatu hal yang sangat menyenangkan.

--Sebagai sarana dakwah. Barangkali ada yang tidak bisa kita sampaikan melalui lisan, akan tetapi bisa kita sampaikan melalui tulisan. dengan menulis pun bisa menembus beberapa kalangan atau tempat-tempat yang belum atau tidak bisa dijangkau.

--Sebagai sarana berbagi dan edukasi. Kita bisa memberikan pencerahan, pengajaran dan pembelajaran yang bermanfaat bagi orang lain.

--Adanya kepuasan mental, kepuasan intelektual, juga kepuasan spiritual dalam diri dengan menulis.

2) Manfaat Praktis, yakni mendapatkan manfaat langsung dari karya tulisan tersebut. Beberapa manfaat praktis yaitu:
--Dikenal publik
--Manfaat ekonomis
--Manfaat kesehatan
--Sarana mengenal dan membuka dunia

Dalam menulis tak hanya kita harus mempunyai tujuan, mendapatkan manfaat. Tapi ada prinsip-prinsip yang harus kita pegang. Pak Cah memberi tiga prinsip dalam menulis, yakni;

--Prinsip kebenaran
Adalah kita menulis yang benar dalam konteks value (nilai), bukan benar dalam hal yang terjadi kebenarannya. Contoh, seorang menulis tentang kemaksiatan yang kemudian orang lain yang membacanya terinspirasi untuk melakukan hal yang sama. Maka sang penulis akan mendapatkan dosa yang sama dengan orang yang terinspirasi oleh tulisannya.

Kita menulis sesuatu yang kita yakini sebagai kebenarannya. kalau kita nggak yakin kebenarannya maka jangan menulis. Kalau kita tidak meyakini kebenaran itu bagaimana kita bisa meyakini orang lain?.
Apalagi kalau tujuannya adalah Ideologis.

--Prinsip kemanfaatan
Sesuatu yang ditulis harus mempunyai manfaat untuk khalayak. Jangan menulis sesuatu yang tidak bermanfaat.

--Prinsip etis
Jangan sampai menulis sesuatu yang menyakiti atau menyinggung orang lain atau kelompok lainnya.
Harus mampu memfilter dan menyebarkan tulisan agar terhindar dari konsekuensi hukum.

Nah sahabat tiga prinsip ini. kebenaran, kemanfaatan dan etis harus hadir dalam koridor tulisan kita.

Demikian dari saya bila ada kekurangan mohon maaf.

Selamat belajar, selamat menulis dan salam literasi untuk ku, untuk mu dan untuk Indonesia.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Basuni azis, itu nama saya. Gak tau kenapa dikasih nama itu. Entah dinisbatkan dengan siapa atau terinspirasi dengan apa. Entarlah yah, saya tanyain ke emak. Lupa mulu soalnya.

Sebenernya bukannya lupa mau nanya, tapi nganu. Sayanya rada gimana gitu, masalahnya saya pernah dibilang kepo sama emak. Kan gak enak banget dengernya. You know lah mother2 jaman now. 

Saya lahir tanggal 8 Desember 1987. Tanggal ini sama dengan ditembak matinya john lennon pada 1980. Tapi bukan berarti saya reinkarnasi john lenon. Terus apa hubungannya?  Ya gak ada, cuma buat "ensiklopedia" aja. (bener gak itu tulisannya?). 

Saya nomor urut 4 dari 5 bersaudara, bisa dibilang bontot gagal. Kakak yang pertama perempuan, yang kedua laki2, ke tiga perempuan, ke empat laki2 (saya) dan ke lima perempuan. Jadi selang-seling gitu. Emang paling gak enak jadi adik, apa-apa bekas kakak. Udahlah jangan dibahas warisan bekasnya. Naas pokoknya.

Ayah saya pedagang kaki lima, pedagang musiman. kadang buah, kadang sayur, kadang ikan dan kadang pakaian. 
"dua seringgit, betul betul betul". 
Ibu. kalau ibu sih, menteri dalam negeri bisa juga menteri keuangan, dll. Rangkap jabatan.

Sewaktu kecil saya tinggal di pinggiran kali cisadane tangerang. Enggak lama sih, soalnya kena gusuran untuk pembuatan jalan dan pembangunan. Waktu itu kondisinya rumah masih ngontrak, jadi woles tinggal nyari rumah kontrakan lagi.

Saya buruh pabrik tadinya, sampai sekarang juga sih masih :D. 
Soalnya gak kebayang kalo jadi duta shampo yang lain. Hahaha, upss. 

Sehubungan dimutasi kerja saya oleh perusahaan. Maka pindah juga tempat tinggal. Dari kabupaten tangerang menuju kabupaten serang. Gak jauh lah yah, masih perbatasan. Jadi masih bisa sepekan sekali berkunjung kerumah orangtua. 

Hal yang paling berkesan selagi masih kecil yaitu khitan. Ini perasaan bercampur antara keberanian dan kegalauan. Berani karena saya harus menjaga maruah seorang laki-laki, dan itu prinsip. Galau, karena sudah melihat teman-teman yang dikhitan sebelumnya menangis dan menjerit histeris, Beddarraahh bro.

Waktu itu khitan massal se-RW. jadi ada donatur yang berkenan membiayai semuanya (semoga Allah memasukkannya dalam Syurga). 
Maju mundur, maju mundur. Kalau maju, dokter dah siap-siap jagal. Mundur, bisa diketawain sama teman-teman. Dan menjadi bahan bullyan sepanjang masa.

"Azis yang mana?" 

" itu loh yang waktu dulu gak jadi sunat gara-gara takut!!!" 

waduuuhh, enggak enggak. Saya tak mau   dilabeli seperti itu. Akhirnya maju tak gentar. Dan baca "bismillahirrahmanirrohiim...."

-sekian-

Oleh : Basuni Azis

Nb: mohon maaf bila ada kata-kata kurang berkenan.