Beberapa waktu yang lalu saat melaju dengan sepeda motor. Sekumpulan
anak SD mencoba menghentikan saya dengan melambaikan tangan-tangannya. Melepas gas
dan menarik rem, saya pun berhenti.
“Om, ikut om..” ujar salah satu dari mereka.
Saya membuka kaca helm dan menganggukkan kepala tanda setuju. Entah
apa yang mereka rundingkan, akhirnya dua orang diantara mereka ikut dengan
saya.
Melihat kejadian ini, saya teringat dengan masa sekolah dasar saya
dahulu. Sama, suka menyetop-nyetopi laju kendara sepeda motor yang terlihat
sendiri. Saya paham yang mereka alami yakni kesulitan mencari mobil angkutan
umum untuk ditumpangi. Alasannya klasik, dalam kondisi jam-jam tertentu saat
sewa (penumpang) meluber, supir lebih memilih penumpang dewasa ketimbang anak
sekolah. Ini cukup beralasan mengingat orang dewasa membayar ongkos lebih besar
ketimbang anak sekolah.
Lantas apakah ini salah?
