Sepasang kakak beradik tampak bermain dengan teman-teman dilapangan bola sore itu.

Sang adik yang umurnya jauh lebih muda selalu menempel pada sang kakak. Seolah tidak mau lepas atau jauh-jauh dari kakaknya. Melihat gelagat sang adik, teman-teman kakaknya berpura-pura memukul sang kakak. Sontak saja sang adik melawan dan berusaha membela kakaknya.

Akan tetapi sang kakak hanya diam saja. karena tahu apa yang dilakukan teman-teman pada dirinya hanyalah bercandaan. Ini adalah  pancingan teman-teman untuk melihat reaksi adiknya yang sigap melindungi kakaknya.

Mereka tertawa terpingkal-pingkal dan terus saja menggoda adiknya hingga berulang-ulang.

Kejadian itu mengingatkan saya pada my brother yaitu abang saya yang jaraknya terpaut enam tahun. Persis seperti kakak beradik tadi yang terlihat akur dan saling menjaga.

Dia pernah mengajak saya bermain dilapangan sekolah dekat rumah. Mengajak tanpa malu atau risih berkumpul dengan teman-temannya.

Saya bukannya tidak punya teman yang sebaya atau sepantaran. Tapi saya sangat suka dengan pengalaman baru, orang-orang baru dan suasana baru.

Dari dulu apapun kegiatan baik yang dia lakukan selalu mengajak saya. Tentu saja kegiatan yang bukan sifatnya pribadi.

Bukan hanya sebagai kakak, tapi juga menjadi tulang punggung membantu perekonomian keluarga kala itu. Teladan bagi adik-adiknya, sebagai tolok ukur menggapai prestasi sekolah dan prestasi ibadah. Pengganti ayah ketika tidak ada dirumah.

Hari demi hari saya beranjak dewasa dan sudah tidak ingusan lagi. Sudah bisa memilih untuk ikut atau tidak. Intinya sudah bisa berprinsip.

Seiring berjalannya waktu, perbedaan kecil sering kali terjadi diantara kami. Contohnya, saya dan dia memiliki kegemaran yang sama yaitu sepakbola. Meski bermain bolanya tidak jago-jago amat, yah nendang-nendang doang bisalah.

Disini rivalitas dimulai, perseteruan meruncing, dua kubu berseberangan namun saling menghormati.
Memiliki kegemaran yang sama pada sepakbola tapi kegemaran pada klub kita berbeda.

Kalau dia Sansiro maka saya adalah Giuseppe Meaza

Kalau dia Bernabeu maka saya adalah Camp Nou

Kalau dia The Blues maka saya adalah The Gooners.

Rivalitas semakin bertambah parah, sast Veer menjadi rebutan Tapasya dan Icha. Hari-hari Veer dan Icha yang romantis membuat Tapasya cemburu. Tapasya perlahan mulai menyukai Veer karena si Veer ini  adalah calon suami idaman. Berbagai cara dilakukan Tapasya agar Veer mau kembali dalam pangkuannya.

Hehehehh, maaf gagal fokus. Maklum sambil nulis, sambil nonton.

Yaudah kita lanjut lagi tentang saya dan my brother. Sampai dimana tadi??? Aduh jadi lupa tuh kan. 
Hmm sampai mana ya,,@#$!%

Coba kita scrol lagi keatas, klik klik klik..

Naaaahh sampai sepakbola. Yaudah sih ceritanya emang segitu doang.

The End


“Thank you Brother (Peri Pardiman), telah mengisi hari-hariku dengan indah pada masa itu. Akan selalu kuingat.  Iya, selalu kuingat.


Serang, 10 Maret 2016.
Basunay














wahai Matahari, tahukah engkau begitu senangnya diriku berjumpa denganmu walau hanya sesaat.

pertemuan kita kala itu merupakan penantianku padamu selama 33 tahun.

walaupun sebentar, aku merasakan betapa hangatnya dekapanmu saat itu.

walaupun sebentar, aku tetap mencintaimu dan menantimu sampai kita bertemu kembali.


wahai matahari,
lihatlah seisi bumi datang dari berbagai penjuru untuk menyaksikan pertemuan kita.