Beberapa waktu yang lalu saat melaju dengan sepeda motor. Sekumpulan anak SD mencoba menghentikan saya dengan melambaikan tangan-tangannya. Melepas gas dan menarik rem, saya pun berhenti.

“Om, ikut om..” ujar salah satu dari mereka.

Saya membuka kaca helm dan menganggukkan kepala tanda setuju. Entah apa yang mereka rundingkan, akhirnya dua orang diantara mereka ikut dengan saya.
Melihat kejadian ini, saya teringat dengan masa sekolah dasar saya dahulu. Sama, suka menyetop-nyetopi laju kendara sepeda motor yang terlihat sendiri. Saya paham yang mereka alami yakni kesulitan mencari mobil angkutan umum untuk ditumpangi. Alasannya klasik, dalam kondisi jam-jam tertentu saat sewa (penumpang) meluber, supir lebih memilih penumpang dewasa ketimbang anak sekolah. Ini cukup beralasan mengingat orang dewasa membayar ongkos lebih besar ketimbang anak sekolah.

Lantas apakah ini salah?

Ba’da sholat Idul fitri, saya langsung berkunjung kerumah orang tua. Seperti biasa, cium tangan dan meminta
maaf pada ibu. Terlihat disana juga ada adik dan beberapa kerabat dekat. Memang sudah menjadi hal biasa, rumah orang tua selalu ramai dikunjungi untuk silaturahim, mungkin karena faktor yang di “Tua” kan.
Setelah saya meng-agresi ketupat, rendang dan nastar. Saya pun bertanya pada ibu “Rencana mau kemana hari ini bu?” tanyaku. “gak kemana-mana dulu, menunggu si anu datang” jawabnya.
Dari rumah ibu, saya pun menyempatkan diri kerumah tetangga dan beberapa kawan lama. Saling memaafkan, menanyakan keadaan dan bercengkrama. Hal yang sama saya tanyakan adalah “ hendak kemana hari raya ini?”. Katanya, kemungkinan besok akan kesana-kesana. Hari ini menunggu si anu datang dulu.


Dik, jauh sebelum kau menjadi murid, diriku pun pernah menjadi murid.
Apa yang pernah kau alami sekarang, pun aku pernah alami dahulu.

Kau tahu dik, mengapa kita dihukum?
Itu karena kesalahan kita.
Tak mungkin dik, mendapat hukuman kalau tidak berbuat apa-apa.

Kau tahu dik, mengapa kita dihukum?
Itu karena cinta kasih guru kita yang telah memperhatikan.

Andaikan dik, andaikan...

Semua guru kita masa bodo,
Semua guru kita acuh tak acuh,
Semua guru kita tak menerapkan disiplin.

Mungkin, tak ada siswa yang berprestasi disekolah.
Mungkin, tak ada generasi dari kita yang dapat dibanggakan.
Mungkin, kau tak akan kuat bertahan di dunia kerja setelah lulus nanti. Nyatanya dunia kerja itu lebih keras dik.

Dik, andaikan..andaikan..

Guru kita melaporkan juga pada polisi karena keributan kita di kelas, karena kita berkelahi, karena melawan mereka (guru), karena kita tidak disiplin, membawa yang tak perlu ke sekolah, karena kita membolos, tidak mengerjakan PR, terlambat masuk kelas, ketahuan merokok, berambut gondrong, mencoret-coret tembok, mengompas adik kelas, menyelewengkan dana SPP dari orang tua.

Andaikan dik, andai guru kita melaporkannya juga pada polisi atas kebandelan kita itu. Sudah tentu musnah terlebih dahulu kita dik dari dunia sekolah.

Tapi tidak dik, guru kita tak melaporkannya.
Guru kita tak tega untuk hal seperti itu.
Guru kita menutup rapat-rapat aib kita.

Andaikan dik, hari ini kau tertangkap polisi saat tawuran. Hari itu jugalah guru mu yang menghadap dan berusaha membebaskan.


Pernah menonton film "The Bang-bang Club", yang mengisahkah sekawanan wartawan?

Geng jurnalistik ini meliput daerah-daerah konflik di beberapa wilayah afrika. Tidak mudah untuk turun langsung, ada usaha ekstra. Berlari, terancam bahkan sering mendapat perlakuan kasar.

Apa mau dikata, ini adalah sebuah tugas dan semangat berkarya. Semangat untuk menghadirkan informasi yang bermanfaat bagi publik.

Adalah kevin carter, salah satu personil geng yang berhasil meraih putlizer price tahun 1994. Sebuah pengharggan untuk kategori jurnalistik. Kevin carter berhasil mengambil gambar anak sudan.

Anak sudan tersebut berperawakan kurus kering tanpa baju, berposisi jongkok sedang meregang nyawa. Tepat dibelakang anak itu ada seekor burung pemakan bangkai. Siap melahap ketika anak itu terkapar jatuh dan mati.

Si kevin carter bukannya membantu memberi makan atau minum agar anak itu bertahan, malah
















Aku tak sanggup mendengar, ketika ayahku mendominasi percakapan seorang yang datang melamarku.
Ingin aku bantu menjawab pertanyaan ayahku yang ditujukan padanya bertubi-tubi.

Ibu yang sejak tadi disampingku, memintaku untuk tenang dan bersabar.
Memang wajar sikap semua orang tua yang mengharapkan terbaik bagi anaknya.

Tapi aku tak ingin menjadi gagal kembali dan aku takut ini menjadi hal yang sia-sia.
Aku memilih untuk menutup telinga rapat-rapat dan memejamkan mata.

Ibu mengusap air mataku dan menyingkap tangan yang ada di telingaku.
"Orangnya sudah pulang" ujar ibuku.

Aku membuka mata berat dan terdiam menunduk.
Kembali ibu megusap air mataku, mendongakkan wajahku, menggapai pundak berusaha memelukku.

"Ananda shalihah, tak perlu khawatir jika ia bukan jodohmu. Toh niat mu menikah adalah ibadah maka tak harus dengannya." Bisik ibuku.

"Tak ada niat ayahmu untuk menghalangi pangeranmu datang, ibu tahu benar itu. Mungkin ayahmu hanya ingin tahu sejauh mana kegigihannya dalam mendapatkan engkau. Atau sejauh mana ketabahan calon pangeranmu dalam menghadapi ayahmu". Lanjut ibuku.

Aku sedikit tenang mendengarnya.

"Pernikahan memanglah ibadah, penantian mu pun ibadah". kata ibuku.
"Ananda shalihah, kita tidak akan pernah sampai memahami pembicaraan laki-laki. Ini masalah tanggungjawab dan kesatriaan". Tambahnya lagi.

Aku tetap diam, memahami kata-katanya.

"Maka kita lihat setelah ini, apakah ia akan datang kembali membawa kedua orang tuanya, atau melambaikan tangan menghadap kamera tanda tidak kemampuannya" papar ibuku tersrnyum.


Baiklah pangeran silakan mencoba..












"kamu itu orang yang paling keras kepala dan paling sulit yang pernah aku kenal. tapi jika aku harus
mengulang hidupku, aku akan tetap memilih kamu."


tepat tanggal 25 juni kemarin, Bpk. BJ Habibie berulang tahun. Itu artinya sekarang usia beliau tepat 80 tahun. Kalau ditanya tentang sosok beliau tentu yang terlintas adalah pesawat terbang, presiden, jenius. Pun demikian dengan saya, kalau ditanya tentang Habibie, jawabannya adalah sama.
Sekilas saya teringat. Setelah tidak lagi menjabat presiden, beliau tinggal bersama isteri dan anak-anaknya di Jerman.

Publik tidak tahu lagi tentang kiprah dan kehidupannya, sampai datang masa itu. ya, berpulangnya isteri beliau 'Hasri Ainun Habibie' kehadapan sang pencipta.
Kepergian ibu Ainun memberikan luka yang mendalam bagi Habibie. Hal ini terbukti dengan beredarnya puisi cinta Habibie untuk Ainun. Yang membuat haru bagi siapa saja yang membacanya.
Berikut puisinya seperti ini;

"Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu. Karena aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.
Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.
Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada, aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.


Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang, tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik. Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan, kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya, kau dulu tiada untukku dan sekarang kembali tiada.
Selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku, selamat jalan calon bidadari surgaku".

-Bacharuddin Jusuf Habibie-

Meskipun usianya saat ini terbilang senja, namun cinta pada kekasihnya masih sama. Fajar yang menghangatkan.
Puisi tersebut lantas menginspirasi dunia drama indonesia untuk mengangkatnya ke layar lebar. Film ini diambil dari karya Habibie sendiri.

Jadi seandainya sekarang saya ditanya tentang sosok Habibie, maka jawaban saya adalah..

"SUAMI JENIUS YANG ROMANTIS"


Serang, 27 Juni 2016

Sepasang kakak beradik tampak bermain dengan teman-teman dilapangan bola sore itu.

Sang adik yang umurnya jauh lebih muda selalu menempel pada sang kakak. Seolah tidak mau lepas atau jauh-jauh dari kakaknya. Melihat gelagat sang adik, teman-teman kakaknya berpura-pura memukul sang kakak. Sontak saja sang adik melawan dan berusaha membela kakaknya.

Akan tetapi sang kakak hanya diam saja. karena tahu apa yang dilakukan teman-teman pada dirinya hanyalah bercandaan. Ini adalah  pancingan teman-teman untuk melihat reaksi adiknya yang sigap melindungi kakaknya.

Mereka tertawa terpingkal-pingkal dan terus saja menggoda adiknya hingga berulang-ulang.

Kejadian itu mengingatkan saya pada my brother yaitu abang saya yang jaraknya terpaut enam tahun. Persis seperti kakak beradik tadi yang terlihat akur dan saling menjaga.

Dia pernah mengajak saya bermain dilapangan sekolah dekat rumah. Mengajak tanpa malu atau risih berkumpul dengan teman-temannya.

Saya bukannya tidak punya teman yang sebaya atau sepantaran. Tapi saya sangat suka dengan pengalaman baru, orang-orang baru dan suasana baru.

Dari dulu apapun kegiatan baik yang dia lakukan selalu mengajak saya. Tentu saja kegiatan yang bukan sifatnya pribadi.

Bukan hanya sebagai kakak, tapi juga menjadi tulang punggung membantu perekonomian keluarga kala itu. Teladan bagi adik-adiknya, sebagai tolok ukur menggapai prestasi sekolah dan prestasi ibadah. Pengganti ayah ketika tidak ada dirumah.

Hari demi hari saya beranjak dewasa dan sudah tidak ingusan lagi. Sudah bisa memilih untuk ikut atau tidak. Intinya sudah bisa berprinsip.

Seiring berjalannya waktu, perbedaan kecil sering kali terjadi diantara kami. Contohnya, saya dan dia memiliki kegemaran yang sama yaitu sepakbola. Meski bermain bolanya tidak jago-jago amat, yah nendang-nendang doang bisalah.

Disini rivalitas dimulai, perseteruan meruncing, dua kubu berseberangan namun saling menghormati.
Memiliki kegemaran yang sama pada sepakbola tapi kegemaran pada klub kita berbeda.

Kalau dia Sansiro maka saya adalah Giuseppe Meaza

Kalau dia Bernabeu maka saya adalah Camp Nou

Kalau dia The Blues maka saya adalah The Gooners.

Rivalitas semakin bertambah parah, sast Veer menjadi rebutan Tapasya dan Icha. Hari-hari Veer dan Icha yang romantis membuat Tapasya cemburu. Tapasya perlahan mulai menyukai Veer karena si Veer ini  adalah calon suami idaman. Berbagai cara dilakukan Tapasya agar Veer mau kembali dalam pangkuannya.

Hehehehh, maaf gagal fokus. Maklum sambil nulis, sambil nonton.

Yaudah kita lanjut lagi tentang saya dan my brother. Sampai dimana tadi??? Aduh jadi lupa tuh kan. 
Hmm sampai mana ya,,@#$!%

Coba kita scrol lagi keatas, klik klik klik..

Naaaahh sampai sepakbola. Yaudah sih ceritanya emang segitu doang.

The End


“Thank you Brother (Peri Pardiman), telah mengisi hari-hariku dengan indah pada masa itu. Akan selalu kuingat.  Iya, selalu kuingat.


Serang, 10 Maret 2016.
Basunay














wahai Matahari, tahukah engkau begitu senangnya diriku berjumpa denganmu walau hanya sesaat.

pertemuan kita kala itu merupakan penantianku padamu selama 33 tahun.

walaupun sebentar, aku merasakan betapa hangatnya dekapanmu saat itu.

walaupun sebentar, aku tetap mencintaimu dan menantimu sampai kita bertemu kembali.


wahai matahari,
lihatlah seisi bumi datang dari berbagai penjuru untuk menyaksikan pertemuan kita.